BEKASI.WAHANANEWS.CO — Tradisi adat Babaritan (Sedekah Bumi) kembali digelar oleh Kecamatan Jatisampurna bersama masyarakat Kampung Kranggan di halaman Kantor Kecamatan Jatisampurna, Jumat (17/7/2026).
Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi, keselamatan, serta harapan akan kehidupan masyarakat yang semakin sejahtera.
Baca Juga:
Sambut HUT Ke-17, SOMASI Peduli Hadirkan Terobosan Lewat Seni, Budaya, dan Aksi Sosial
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Asisten Daerah II Sekretariat Daerah Kota Bekasi, Agus Harpa Senjaya yang mewakili Wali Kota Bekasi, Camat Jatisampurna Nata Wirya, para lurah se-Kecamatan Jatisampurna, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, serta warga Kampung Kranggan.
Prosesi Babaritan diawali dengan penyusunan berbagai hasil bumi, seperti padi, buah-buahan, umbi-umbian, jajanan tradisional, dan tumpeng di atas hamparan daun pisang sebagai simbol rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan.
Ritual adat pun dipimpin oleh sesepuh Kampung Kranggan, dilanjutkan dengan doa bersama untuk memohon keselamatan, keberkahan, serta kelestarian alam.
Baca Juga:
5 Minuman Dunia yang Diakui UNESCO, Ini dari Indonesia!
Selain menjadi tradisi tahunan, Babaritan juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarwarga sekaligus memperkuat semangat gotong royong dan kebersamaan.
Tradisi ini juga diharapkan mampu menanamkan kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal di tengah arus modernisasi.
Camat Jatisampurna, Nata Wirya mengatakan bahwa, Babaritan memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar kegiatan seremonial.
"Tradisi Babaritan bukan sekadar seremonial budaya, tetapi memiliki nilai filosofis yang sangat tinggi. Di dalamnya terdapat rasa syukur kepada Allah SWT, penghormatan kepada para leluhur, semangat kebersamaan, gotong royong, serta kepedulian terhadap lingkungan. Nilai-nilai inilah yang harus terus diwariskan kepada generasi muda agar tidak hilang oleh perkembangan zaman," ujar Nata kepada awak media.
Menurut Nata, Kecamatan Jatisampurna berkomitmen untuk terus mendukung pelestarian budaya lokal sebagai bagian dari pembangunan karakter masyarakat.
"Pelestarian budaya merupakan bagian penting dalam memperkuat karakter masyarakat. Tradisi seperti Babaritan menjadi bukti bahwa masyarakat Jatisampurna masih menjaga nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan kearifan lokal. Kami berharap kegiatan ini terus dilaksanakan setiap tahun dan menjadi salah satu daya tarik budaya Kota Bekasi," tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga persatuan serta berkolaborasi membangun wilayah tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Adapun diketahui, Tradisi Babaritan merupakan bagian dari Gelar Budaya Tradisi Adat Kampung Kranggan Tahun 2026 yang mendapat dukungan Pemerintah Kota Bekasi sebagai upaya melestarikan warisan budaya daerah.
Selain menjaga identitas budaya masyarakat, kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkuat potensi pariwisata budaya Kota Bekasi melalui pengenalan tradisi khas Kampung Kranggan kepada masyarakat yang lebih luas.
“Melalui penyelenggaraan Babaritan, masyarakat Kampung Kranggan kembali menunjukkan bahwa nilai-nilai gotong royong, rasa syukur, dan kearifan lokal tetap hidup dan relevan sebagai fondasi dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis di tengah perkembangan zaman,” pungkas Nata.